Jakarta – Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, mengajak masyarakat untuk membangun budaya demokrasi yang lebih dewasa dengan menyampaikan kritik secara santun, berbasis data, dan berorientasi pada solusi. Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan yang sehat, bukan tempat menyebarkan kebencian maupun serangan terhadap pribadi seseorang.
Fernando mengatakan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Pemerintah, lembaga negara, maupun pejabat publik perlu mendapatkan masukan dari masyarakat agar setiap kebijakan dapat dievaluasi dan disempurnakan.
“Kritik adalah vitamin bagi demokrasi. Namun, kritik akan lebih bermanfaat apabila disampaikan dengan argumentasi yang kuat, didukung fakta, serta menawarkan solusi yang membangun,” ujar Fernando.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami perbedaan antara mengkritisi kebijakan dan menyerang pribadi seseorang. Menurutnya, kritik yang berkualitas seharusnya mengulas isi kebijakan, dampaknya terhadap masyarakat, efektivitas pelaksanaannya, hingga alternatif penyelesaiannya.
“Kalau kita tidak setuju terhadap suatu kebijakan, sampaikan alasannya dengan data dan analisis. Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi penghinaan atau ujaran yang justru menghilangkan substansi diskusi,” katanya.
Fernando juga menilai meningkatnya penggunaan media sosial harus diikuti dengan peningkatan literasi digital. Masyarakat diharapkan lebih bijak sebelum membagikan informasi maupun menyampaikan pendapat agar tidak terjebak dalam penyebaran hoaks, provokasi, ataupun konten yang dapat memicu perpecahan.
Menurutnya, setiap unggahan di media sosial akan meninggalkan jejak digital yang dapat berdampak bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, pengguna media sosial perlu mengedepankan etika, tanggung jawab, serta menghormati perbedaan pandangan.
“Bangsa yang maju bukanlah bangsa yang semua warganya selalu sepakat, tetapi bangsa yang mampu berbeda pendapat dengan cara yang bermartabat,” tutur Fernando.
Fernando berharap masyarakat dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi, penyebaran informasi yang akurat, serta ruang lahirnya gagasan-gagasan konstruktif untuk kemajuan bangsa.
“Kita boleh berbeda pilihan politik maupun pandangan terhadap kebijakan pemerintah. Namun, persatuan sebagai sesama anak bangsa harus tetap dijaga. Mari kita biasakan berdiskusi dengan akal sehat, mengedepankan etika, dan menjadikan kritik sebagai jalan untuk menghadirkan solusi, bukan memperdalam polarisasi,” pungkasnya.





